Travelling

Negative Vibes? Like I Care

Hello Fellas!

Adakah dari antara kalian yang pernah mengalami namanya minder karena dikatain orang? Well lets say its about physically (most of the time).

Straight to the point aja dimana saat ini nampaknya orang-orang banyak disibukkan dengan negative thoughts and words daripada menciptakan suasana yang nyaman saat ngobrol dengan teman. Saya ambil contoh dari pengalaman saya sendiri.

Selama satu tahun tinggal di Dubai, pastinya saya mengalami banyak perubahan terutama fisik. Dari berat semula yang cuma 50kg sekarang ada di 55kg. Setiap kali saya upload foto atau ketemu temen-temen di Indo, mereka rata-rata akan bilang “kamu gendut banget sekarang“. Saya sih santai aja karena emang dari dulu pengen banget badan segini. Cape bener deh punya badan kurus kering. Malah jadi gampang sakit dan berasa tua aja mukanya karena semua tulang belulang nampak jelas.

Pertanyaan lain muncul “Eh jadi pramugari kok malah tambah gendut? Boleh gitu emangnya?“. Saya juga santai aja nanggepinnya. Saya kerja buat airline Middle East yang mana mengharuskan saya punya BMI yang sesuai standard. Saya ga bilang pramugari di airline lain BMI nya ga seimbang. Tapi bayangin aja temen-temen kerja saya disini rata-rata bule yang ga mungkin punya badan seramping orang Asia karena tulang mereka aja lebih gede. Kalo saya kurus kering kaya jaman dulu kala, mungkin malah saya bakal kena grounded buat naikin berat badan 😂. Dan lagi-lagi setiap company punya rule sendiri-sendiri.


Berkali-kali dapet comment serupa, saya cuma bales ya sesuai yang saya rasa. Disini ga bisa kalo harus kurus kering. Sampai setelah beberapa kali ngobrol dengan teman-teman disini. Sharing soal kesehatan dan berat badan, mereka kaget waktu saya bilang banyak yang comment saya ini gendut. Oke ini bukan kaget pereus ala-ala rempongers. Tapi literally mereka kaget. You know what they said? “Girl, you look good, don’t bother their negative comments. They just want to bring you down.”

Jujur saya kaget dengan pendapat mereka karena buat saya itu hal biasa (iya kan? Di Indo biasa banget kan bilang ih kamu gendutan ya. Kamu gendut banget sih. Ih kamu kok chubby sih? Etc). Tapi mereka bisa marah denger cerita saya. Rupanya menurut mereka judging people physically doesn’t make any sense at all. Its their life and their body. They can do whatever they want as long as they are happy with that. 

Masih soal comment gendut-gendutan. I went out with a French guy and got a chance to tell him about this story. Tanggapan dia jauh lebih luar biasa “In France, it’s offensive to tell a person that he/she is fat. You can never ever tell a person is fat.” (Ayo siapa yang mau pindah ke Prancis gih buruan!).

Others gave a very sarcastic comment with “Gosh, I wanna see how perfect are they so they called you fat. I can not see a funny side of this.”


Next story, sedikit throwback ke jaman saya kerja di Tangerang. Jadi saya pernah kerja menjadi staff di salah satu pabrik sepatu di Tangerang. Saya juga gatau sih saya ngapain kok disana bisa jadi iteman. Kalau balik ke Solo pasti dibilang “Kok kamu iteman? Kok kamu item banget sekarang? Kok kamu gosong? Kamu perawatan kesini aja biar gosongnya ilang. Kamu pake ini deh biar putihan.”

Satu kalimat yang paling saya inget itu dateng dari Manager saya. Waktu itu ada satu staff baru yang diberi tugas untuk menemui salah satu atasan di kantor. Manager saya bilang “Kamu cari aja bapak-bapak yang gede item. Item kaya Jevi.”

Kenapa saya inget-inget ini? Karena saat itu jujur saya anggep itu lucu. Becandaan. Tapi satu teman saya di kantor ngeliat saya dan bilang “Jev itu ga sopan banget tau ngomongnya. Kok kaya gitu sih.”

Mungkin saya orangnya terlalu bodo amat jadi saya ga terlalu pusing. Tapi saat saya coba share hal ini dengan konteks bercanda ke temen-temen lain, mereka bilang “Eh kok dia ga sopan sih. Becanda nya ga bermutu.”

Oke mereka marah. Saya masih ga nangkep sih kenapa mereka marah karena emang saya akuin waktu itu emang gosong banget dah kerja di pabrik. Nampaknya semua debu dan dosa nempel jadi satu di badan. Uda item jerawatan pula. Saya sih mikirnya ya ngapain marah orang yang dia omongin bener.


Then saya nyampe disini dan bergaul dengan orang-orang yang sama sekali ga peduli dengan warna kulit (bahkan mereka adore dengan yang namanya tan skin) bikin saya jadi mikir, hidup di Indonesia itu keras ya bung! Karena disini saya jarang kena matahari, otomatis skin tone saya gampang naik dan itu bikin saya jadi kelabakan sekarang. Karena ga pernah ada yang bisa nebak saya dari Indonesia. “Are you from Singapore? Are you from Thailand? Are you from Phillipines? Are you from China? (Come on guys! Seriously? China???).

Dan saat saya share cerita ini ke mereka. Tanggapannya adalah “Even if you are white, you can not let people to say ‘you are so white’. I don’t know how you can handle that situation. I feel sorry to hear that.”

Others said “I don’t know why you guys really wants to be white. Try to accept whatever in your life and make the best of it. There is nothing wrong to be white, tan, or dark. Your story is so sad.”
Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwa judging people physically is the worst thing ever. First, it’s not your business. Second, it’s not your freakin business. Keras kan ya hidup di Indonesia. Yang begini salah begitu salah. Item dianggep jelek. Putih dibilang palsu. Hayati mulai lelah.


Selain bad comments, hal lain yang menurut saya (sekarang) jadi negative vibes adalah jokes ga lucu yang dilontarkan orang-orang. Bukan berarti saya adalah orang yang ga bisa diajak bercanda atau kaku. Saya suka bercanda dan saya tipe orang yang easy going mau bercanda segila apapun. Tapi ada beberapa hal yang pada akhirnya menurut saya bukanlah hal yang lucu untuk dijadikan bahan lelucon.

Contoh :

Situasi : liburan bareng temen-temen. Ga sengaja ketemu temen lain. Obrolan pun dimulai.

A : Ini kamu dalam rangka liburan atau pas emang on duty kesini jev?

Me : liburan kok

B : gue mau bilang kalo dia jatuh dari pesawat kesini tapi gue ga tega ngomongnya (bego kali ya? Tetep aja diomongin padahal)

Me : well I’m well trained so I’m not even scared (dalam hati ngebatin kayanya ni orang otaknya keselip di dompet koin).

Tau kenapa ini ga lucu? Karena kerjaan saya emang resiko terbesarnya ya itu, kecelakaan pesawat. Perlu banget dijelasin gimana ngerinya itu? Saya ga pernah ngebayangin itu karena buat saya itu adalah bad luck. Pikir positifnya aja. Ga usa mikir bad luck nya. Dan elu, sendok sayur, bisa-bisanya ngomong begitu buat bahan becandaan?


Cerita lain lagi bukan dari saya tapi pengalaman orang lain. Orang-orang sibuk soal pakai bikini dan bilang “Ya ampun itu badan jangan diumbar-umbar dong.” Please, tolong, itu badan-badannya dia, ga suka ya ga perlu comment. Sibuk amat hidup lo sis?

Yang terbaru yang saya tau adalah salah satu pesulap Indonesia yang tampil di ajang pencarian bakat di Amerika. Bukannya didukung eh malah banyak yang mencela dengan dalih trik sulapnya biasa banget. Eh sis, bro, mau trik sulapnya biasa, situ bisa ga ngelakuin kaya gitu? Situ sanggup ga nunjukin bakat ampe ke negeri orang bawa nama Indonesia?


Next story yang mungkin buat saya ini adalah yang terbaik. Disini saya menemukan toleransi yang kuat dari semua orang. Saya hidup saat ini di negara Muslim. Tapi saya kagum dengan budaya yang diterapkan disini. Negara ini benar-benar menghargai perbedaan. Sebagai contoh saat ini adalah bulan puasa. Tempat makan tetap buka hanya saja mereka akan menata area makan sedemikian rupa sehingga tidak terlihat dari luar dan tidak mengganggu umat Muslim yang berpuasa. Ga ada demo huru-hara memaksa tempat makan untuk tutup di bulan puasa. Ga ada namanya kekerasan (ceritanya nyindir gitu).

Kalau kalian pernah ke Dubai atau nantinya berkesempatan untuk dateng kesini. Kalian akan melihat yang namanya pantai penuh wanita cantik berbikini dan berpapasan sama wanita-wanita cantik berhijab di saat bersamaan. Iya bisa kalian temui disini dan ini sangat normal. Oh atau tempat hiburan malam yang tetap buka walaupun ini bulan Ramadhan. Ga ada ancaman yang dateng untuk menutup paksa tempat hiburan. Bukan, bukan mereka tidak menghargai bulan suci. Justru negara ini amat sangat menghargai yang namanya perbedaan dan sangat open minded. Jadi penduduk disini pun lebih mudah untuk menyesuaikan diri. Penduduk disini tau bagaimana bersikap. Karena mereka paham betul kekerasan ga pernah menyelesaikan masalah.


Tapi bukan berarti negara ini ga punya aturan. Negara ini punya aturan yang ketat sama seperti negara-negara lain. Hanya saja karena keterbukaan pemikiran dan komunikasi disini membuat penduduknya lebih nyaman dan tenang meskipun dengan aturan-aturan yang ketat.

Kesimpulannya berhentilah melontarkan kalimat buruk. Mungkin saat ini kita masih ga sadar kalo itu hal buruk karena kita terbiasa melakukannya (Saya pun masih belajar kok karena yang namanya kebiasaan buruk memang kadang harus pelan-pelan dirubahnya). Coba liat sisi lain dari kalimat tersebut dan gimana rasanya saat ada orang yang mengucapkan hal buruk ke kalian? Lagi-lagi mungkin kita ga langsung sadar karena balik lagi uda biasa ama yang begituan.


Kalau kalian minder dengan kalimat negatif dari orang sekitar, coba hargai diri dengan tidak membiarkan orang lain mengatakan hal buruk ke diri kalian. Apapun itu. Buatlah self defense yang baik dan tidak menyinggung orang tersebut (ini masih rada susah sih 😂). Buat diinget aja, kalau kita bales dengan kalimat yang negatif juga, apa bedanya kita dengan orang tersebut?

Last but not least, kalo ada yang kasi negative vibes ke kalian, kalian punya hak sepenuhnya untuk pergi dan bilang “Talk to my hand, sweetheart!

xoxo

Jevi

3 thoughts on “Negative Vibes? Like I Care

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s